Saturday, March 28, 2009

Twilight Saga: Kesederhanaan Cinta


* Spoiler Alert *

Biasanya saya menyenangi buku2 dengan tema2 menantang seperti Dunia Sophie (Sophie's World) atau Perfume, atau yang digenangi bahasa2 rumit macam buku2nya Dewi Lestari, atau yang agak2 menyenggol ranah kepercayaan seperti Golden Compass... atau yang sederhana tapi penuh petunjuk2 samar yang penuh kejutan seperti Harry Potter.

Kisah cinta adalah prioritas paling akhir dalam membaca apalagi membeli buku.

Karenanya saya terheran2 sendiri bagaimana saya bisa saya melahap 4 buku serial Twilight dalam waktu kurang dari 2 bulan (well, mungkin bkn rekor yg terlalu impresif, tp cukup mengejutkan buat ukuran sy :p).

Kesederhanaan yang memikat. Itulah impresi saya terhadap serial ini.

Membaca Twilight dan ke-3 buku lanjutannya, kita tidak akan disuguhi kata2 yang rumit, dialog yang berbelit, atau petunjuk2 misterius... Semuanya begitu sederhana, gamblang, mudah ditebak... tapi anehnya, tidak membosankan. Satu2nya elemen dalam kisah ini yg tidak bisa saya tebak hanyalah kemunculan Nahuel pada bagian akhir Breaking Dawn.

Twilight membuat segala kerumitan cinta penuh air mata dan konflik ala sinetron2 terasa basi dan berlebihan.

Inilah bukti bahwa sebuah buku yang sukses dan memikat tidak perlu kusut, cukup sederhana dengan penokohan yang kuat dan unik... terciptalah kisah cinta romantis yang mempesona.

Bravo buat Stephanie Meyer dengan Twilight Saga-nya!

Friday, March 27, 2009

Menggenggam Setitik Harapan

Tepat seminggu sudah saya kembali ke rumah. Rasanya ga percaya klo masa2 penantian operasi, operasi itu sendiri, hingga hari2 penuh penderitaan pasca operasi ketika saya dicekoki obat bernama Metronidazol... semuanya bisa dilalui dengan baik.


Alhamdulillah pada operasi kali ini saya cukup cepat pulih, sangat berbeda dengan operasi pertama beberapa bulan silam dimana saya pulang dalam keadaan masih sangat payah dan kesakitan. Kali ini saya hampir ga mengalami rasa sakit sama sekali pada luka operasi... cekokan morfin selama 3 hari post op ternyata manjur sekali. Bisa dibilang jasa Accute Pain Service yg harganya Rp 800.000 itu emang pay off... karena saya masih bisa mengingat dengan jelas rasa sakit akibat tindakan laparotomi terdahulu. Sebagai gantinya saya hampir gila karena mual dan muntah terus menerus, yang kabarnya memang merupakan efek samping dari Metronidazol, digabungkan dengan kenyataan perut saya tak boleh diisi selama 3 hari post op. Hari ke-3 post op adalah "saat menjelang fajar" saya. Kalo ada orang yang bilang bahwa "saat yang paling gelap dalam suatu hari adalah saat menjelang fajar", itu benar adanya. Karena hari ke-3 itu adalah saat paling gelap dan dingin dan menyiksa yang pernah saya rasakan, sebelum dengan sangat ajaib beberapa jam kemudian saya bisa tertawa lagi, bersamaan dengan dihentikannya konsumsi Metro dan diperbolehkannya saya makan.

Eniwei, sekarang saya udah online lagi... sebenernya sih udah dari seminggu yang lalu bisa online tapi baru sekarang nge-blog lagi di sini. Kepulangan saya disambut dengan berita gembira bahwa blog saya yg lain Project i-LaMB meraih juara 2 dalam kompetisi blogging yang diadakan Animax, dengan hadiah berupa Sony PSP... Welcome home surprise yang manis, lumayan sebagai pengganti hape yg dicuri orang saat saya terkapar di ruang HCU RSCM (ya ya... ada juga orang yg sejahat itu di dunia ini, tentu saja)

Pulang dengan meninggalkan semua yg buruk dan membawa setitik harapan dan semangat baru. Harapan dan semangat yang hilang dan timbul, wajar saja, karena saya cuma manusia biasa yang rapuh. Penyakit saya adalah hantu yang kapan saja siap datang kembali, secara medis bahkan persentase kekambuhannya adalah niscaya. Tapi saya tahu suatu rahasia... lakukan saja bagian yang bisa saya lakukan, dan serahkan sisanya pada-Nya. Sesederhana itu.

Ya, lakukan saja apa yang bisa saya lakukan untuk menghindari kambuhnya, dokter juga akan melakukan yang mereka bisa untuk membantu saya... dan sisanya... itu urusan-Nya.

Kyou mo gambarou...! (^_~)

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails