Saturday, January 24, 2009

Di atas syukur ada sombong

Menjadi sakit artinya saya bisa nge-blog... ahaha... terasa terlalu simpel? (^_^)p

Ya baiklah...

Bagaimana kalau ini... setelah berada dalam kondisi sakit selama bbrp waktu, saya sadar bahwa mata pelajaran melewati masa sulit itu ada beberapa tingkatan.

Not bad? Oke, saya lanjutkan...

Pertama adalah tingkatan berkeluh-kesah.

Mengasihani diri sendiri. Pada tingkatan itu saya merasa self-centered, hanya terpusat pada diri sendiri. Mempertanyakan kenapa saya harus mengalami itu semua, apa salah saya sehingga harus dihukum seberat ini, dll, dsb. Tingkatan ini sangat berat baik bagi saya sendiri maupun bagi orang di sekitar saya. Tapi sebenarnya tahap ini tidaklah seburuk yg dikira, krn dgn mengakui keterpurukan, saya bisa berkeluh-kesah pada si Empunya Hidup Allah SWT. Kalaulah saya tidak jatuh sedalam itu ke jurang mengasihani diri sendiri, mungkin saya tidak akan bisa mengasihi diri saya sendiri alih2 saya akan terus saja berpura2 tegar pdhl sebenarnya tidak.

Kemudian tingkatan bersyukur. Ini terjadi ketika saya mulai merasa lebih baik, merasa lebih tenang setelah mengadu pada-Nya dgn berderai-derai air mata, dan menyaksikan orang2 yg penyakitnya lebih parah dari saya. Pada tingkatan ini saya merasa bersyukur bahwa saya bisa melalui semuanya dengan baik, bahwa saya tnyata diberi cobaan yg memang bisa saya atasi.

Dan tahukah, apa tingkatan selanjutnya? Sombong. Ya, setelah bisa melalui segala rasa sakit itu, ketika melihat orang lain yg sakitnya lebih ringan atau sama dgn saya dan org itu mengeluh, saya dgn besar kepala mengatakan dalam hati "Ih, baru segitu aja udah mengeluh. Saya wkt itu lbh parah dr itu"

Sangat mengejutkan bahwa di atas rasa syukur timbul rasa sombong. Ketika saya berhasil naik kelas dari keluh-kesah menjadi syukur, saya justru menjadi sombong. Saya menyombongkan bahwa saya dulu tidak mengeluh sekeras itu.

Tapi untungnya, saya tak berlama2 di tingkatan ini. Krn kemudian, saya berhasil mencapai tingkat selanjutnya, yaitu compassion. Memahami bahwa seseorang itu, betapapun sepelenya penyakitnya, dia tetap sakit dan tetap membutuhkan perhatian. Sekalipun perhatian itu hanya sekedar senyum maklum ketika ia mengeluh atau kata2 pemberi semangat ketika ia malas berusaha. Berbelas-kasih dengan merefleksikan diri sendiri bahwa pada suatu titik, dahulu, saya pernah pd tingkatan itu dan akhirnya melewatinya.

People are at their level.

Dan jika saya merasa sudah melewati apa yg mereka lalui (ah, lagi2 sombong >_< ), maka sungguh tidak adil kalau saya meminta mereka melompati dua/tiga anak tangga sekaligus. Bahwa menjadi manusia bukan berarti harus selalu tertawa ataupun selalu tegar. Atau harus selalu bisa seketika itu jg menemukan cahaya dlm kegelapan. Bahwa saya sesungguhnya mendapat privilege untuk menangis dan kemudian tersenyum, untuk bernaung dalam awan kelabu dan kemudian mensyukuri matahari, untuk rapuh dan kemudian dikuatkan oleh tangan-Nya. Catatan tambahan: satu mekanisme unik dari manusia adalah ia tidak hanya tidak akan tetap berada pada suatu level tertentu, tapi juga tidak ada jaminan bahwa ia akan selalu meningkat levelnya. At some point, bisa naik, bisa pula turun tingkat. But hey, we're only human. So don't be too hard on yourself. (^_~) [BGM: Michi - To You All by Aluto, Naruto Shippuden 3rd Ending... kenapa ya klo denger lagu ini leher terasa tercekat kaya mo nangis... (^_^)p ]

1 comment:

  1. Salam kenal... :)
    Memang sakit itu semacam alarm biar kita jadi ingat sama Yang Di Atas.
    Nggak usah sakit yang berat2, dikasih sembelit aja dulu...
    Mirip sharing saya yang ini nih:
    http://wisatajiwa.wordpress.com/2009/01/05/hidup-di-atas-titian-rambut-dibelah-tujuh/
    Semoga berkenan.
    Salam damai...

    ReplyDelete

Your say..

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails