Showing posts with label Entertainment. Show all posts
Showing posts with label Entertainment. Show all posts

Friday, March 16, 2012

Classically in Love

Yet another beautiful event in February.

Classically in Love

 
Seperti judul dan posternya, ini adalah konser biola klasik yang dibawakan oleh seorang violinist Iskandar Widjaja. Jujur, saya baru tahu tentang pemuda kelahiran Jerman itu ya pada saat melihat posternya :p Tapi rupanya Iskandar sudah cukup dikenal di kalangan pecinta biola tanah air - terbukti dengan banyaknya fans yang hadir dalam konser tersebut.

Jadi, saya hadir di sana itu murni karena rasa penasaran dan keberuntungan. Yah apalagi kalau bukan karena saya dapat 2 free ticket dari Vitafem :D

Dekorasinya cute bgt yaa
The welcome gift

Bertempat di Titan Center, konser tgl 11 Februari tersebut dibagi menjadi 2 sesi. Pada sesi pertama, didampingi pianist Christine Utomo, Iskandar memainkan Brahms Scherzo, Ravel Sonata, Ravel Tzigane, dan Kroll Banjo & Fiddle sebagai encore. Saya bukan ahli biola ataupun musik klasik, tetapi Ravel Tzigane ini saya kenali sebagai salah satu nomor yang dibawakan oleh Len di anime La Corda D'Oro (yaah palet klasik saya dari anime, dari mana lagi :p).

Iskandar Widjaja & Christine Utomo

Overall, karena temanya in Love, mau ga mau saya jadi membayangkan kisah cinta apa yang cocok dengan nomor2 tersebut. Lalu yang terlintas di kepala saya ketika itu adalah Wuthering Heights. Ya, kisah cinta yang menguras energi itu yang saya rasakan terutama pada Ravel Sonata; shocking, disturbing, consuming.

Akan tetapi, pada sesi 2, ketika Iskandar berduet dengan Maylaffayza, suasana agak ringan karena yang dibawakan adalah beberapa lagu pop seperti The Prayer dan You Raise Me Up. Saya, terutama, sampe mengembangkan air mata di The Prayer. Ihikz indah banget sik T_T

Yak, sebagai oleh-oleh ini dia The Prayer yang dibawakan Iskandar Widjaja dan Maylaffayza malam itu. Enjoy!





Big thanks to @Vitafem for the tickets! Dan untuk coklatnya ^_^

Monday, March 5, 2012

Terjerat Pesona Sang Phantom

The Phantom of The Opera.

Siapa yang tak pernah mendengar kisah klasik ini. Bahkan seumpamanya belum pernah membaca atau menonton filmnya, The Phantom of The Opera adalah karya Gaston Leroux yang sudah banyak dikenali sebagai kisah drama cinta bersalut misteri.

Karenanya ketika Big Daddy mendatangkan Sang Phantom dalam pertunjukan opera di Balai Kartini Jakarta, saya bersemangat sekali.


The Phantom of The Opera yang menyambangi Jakarta selama 3 minggu dari 14 Februari - 4 Maret lalu itu mengambil versi Ivan Jacobs untuk dimainkan. Phantom versi Jacobs adalah versi original yang komposisinya dibuat di 1972.

Terdiri dari 2 babak 21 adegan, pertunjukan diawali dengan nuansa horor dan misteri dari adegan ditemukannya sesosok tubuh yang tergantung.

Gosip tentang munculnya Sang Hantu opera pun menyebar. Akan tetapi duo manager opera membantah keras rumor tersebut. Namun ketika Christine Daae melakukan debutnya dengan menggantikan Carlotta, tampak hadir diam-diam di bangku penonton sosok misterius mengenakan topeng dan jubah.

Selain Sang Hantu, ada seorang pemuda yang ikut menyaksikan debut Christine - Raoul - teman masa kecil Christine yang jatuh cinta pada gadis itu. Ketika Christine pingsan akibat terlalu cemas dan gugup setelah pertunjukannya, Raoul mendatangi Christine, hanya untuk mendapati bahwa Christine tidak mengenalinya.

Di sisi lain, Christine rupanya memiliki guru rahasia yang disebutnya sebagai Malaikat Musik (Angel of Music) yang mengajarinya menyanyi. Sang Guru - yang tentu saja penonton ketahui sbg Phantom - mengultimatum Christine agar hanya mencintai dirinya, sebab jika tidak ia akan pergi. Di saat inilah Christine dan Phantom menyanyikan Apart From You.

apart from you there is no music
apart from you there is no joy

Lagu ini - beserta Living on The Edge - termasuk yang paling melekat di kepala saya, yang saya gumam-gumamkan sepanjang jalan pulang dan beberapa hari setelahnya :D

The kiss at Phantom's Lair
Dari sanalah kisah cinta dan teror Phantom berlanjut.

Penonton tidak hanya diharu-biru oleh cinta segitiga Christine yang terjepit di antara Erik Sang Phantom dengan kegilaannya dan Raoul dengan kenaifannya, tetapi juga dihibur adegan kocak yang membuat seisi Nusa Indah Theater tergelak. Seperti adegan rehearsal Carlotta yang oleh duo manager disindir "Suaramu lebih bagus semalam" dan disambut delikan Carlotta. Yaeyaa semalam kan yang nyanyi Christine :))

Adegan yang juga saya sukai adalah ketika Christine mendapat mimpi yang menggambarkan dirinya terombang-ambing di antara Phantom dan Raoul. Adegan ini ditampilkan dalam komposisi balet yang cantik. Oke, tak hanya ini pertama kali saya menonton opera ini juga pertama saya melihat balet. Jadi, ketika Christine dalam adegan balet diangkat beberapa kali dengan ringannya bagai bulu, atau pirouette Sang Phantom yang saya hitung kalo tidak salah 8 kali putaran itu, saya terharu dengan sempurna.

Adegan pesta topeng, yang setelahnya Raoul dan Christine menyanyikan Living On The Edge
Diva Biche

Setting dan tata lampu simpel namun efektif. Adegan chandelier bikin saya agak kaget, karena tadinya saya kira chandelier itu properti gedung, tapi ternyata dia bergoyang dan berkelip2 saat teror Phantom yang murka karena Christine tidak menyanyi.

Para pemeran menurut saya - yang awam opera ini - terasa pas. Phantom (Shouvik Mondle) diperankan dengan karakter suara yang berat, tebal dan penuh, seperti yang akan kita bayangkan dari pria bertopeng ini. Christine (Natalie Ramires) manis dengan suara tinggi yang jernih memukau. Sementara Raoul (Christopher Behmke) dibawakan dalam sosok pemuda tampan dengan suara yang kuat namun halus.

Opera vs Buku
(bagian ini mungkin mengandung SPOILER)

Beberapa unsur dalam opera karya Ivan Jacobs ini berbeda dengan novelnya. Misalnya munculnya karakter Didot yang kemudian dibunuh oleh Phantom, atau disorotnya karakter Meg Giry yang tampaknya "wanita kesayangan" semua pria di opera. Tapi perbedaan terbesar tentu saja terdapat pada kisah cinta segitiga Raoul - Christine - Erik.

Jika di dalam buku, nyata-nyata Christine mencintai Raoul dan sangat takut pada Erik, bahkan menyebutnya monster, dalam opera ini Christine tampak lebih mencintai Erik dan mengabaikan Raoul. Christine mempercayai Erik dan mengasihi sekaligus mengasihaninya karena wajahnya dan hidupnya yang kesepian. Christine masih mempercayai Erik sebagai Malaikat Musiknya, sampai akhir.

Dalam buku, Christine - meski mengaku tidak membenci Erik tetapi jelas tidak jatuh cinta padanya dan menyebutnya monster

Meski romansa Christine dan Erik yang diperlihatkan dalam panggung opera ini lebih seperti yang saya bayangkan tentang kisah Phantom (tau dong, heroine yang jatuh hati pada pria buruk rupa yang berbahaya) tetapi endingnya jadi terasa kurang mengalir karena - seperti juga di buku - Christine dan Erik harus berpisah.

Dalam opera tersebut saya agak sulit memahami mengapa Christine harus pergi? Saya akhirnya berpikir mungkin karena di adegan terakhir itu Erik tampak begitu berbahaya dan gila hingga harus ditinggalkan. Tapi klo memang begitu kenapa harus menyanyikan Music of Life (yg denger-denger debut di Jakarta ini) seakan2 berat berpisah? Kenapa pula Raoul pergi lebih dulu alih-alih - katakan - menyeret Christine ikut dengannya keluar dari sarang Erik Sang Hantu? Apakah Raoul begitu kesalnya? Jika kesal kenapa ga menyerang Erik?

Lepas dari itu, toh pada kali ke-2 saya menonton pagelaran opera ini, saya berkaca-kaca juga di saat Christine dan Erik terpisah.

Adegan akhir yang walau sulit saya mengerti tapi teteup bikin mewek.. mungkin karena saya ga mau opera ini berakhir dan berpisah sama Phantom ya.. T_T

Meski berbeda, beberapa dialog mempertahankan dialog asli dari versi Gaston Leroux, seperti;

Kalimat yang diucapkan Erik pada Christine ketika manbawanya ke sarangnya.

Kalimat ini diucapkan Christine untuk menenangkan Erik yang murka dan sedih karena gadis itu nekad membuka topengnya. Konteksnya agak berbeda. Di dalam buku diceritakan Christine ketakutan dan mengucapkan ini sekedar untuk menenangkan. Sedang di opera terlihat Christine sungguh-sungguh kasihan dan bersimpati pada Erik, yang kemudian diikuti dengan adegan kecupan.

Diucapkan oleh Phantom sebagai perlambang kegilaannya akan eksistensi diri dan cintanya, yang juga mewakili naskah opera yang dibuatnya yang ingin dimainkannya bersama Christine

Dalam opera, bahkan terdapat lagu I Am Loved For Me, yang melambangkan keinginan Erik untuk dicintai karena dirinya, bukan karena suaranya atau apapun.


Terhipnotis Sang Phantom

Kalau saya tidak begitu terpesonanya dengan Phantom, saya tidak akan menonton 2 kali! Jadi, itu artinya saya 2 kali susah payah ikut kuis untuk mendapatkan tiketnya, niat banget kan :p Yang pertama dari Tabloid Bintang, yang kedua dari Virowater :D

Seperti yang saya katakan, ini pertama kalinya saya menyaksikan opera, dan sejujurnya pengalaman pertama membuat saya ketagihan. Seandainya bisa, saya ingin menonton The Phantom of The Opera ini tiap hari!

Di kesempatan pertama, saya duduk di balkon sedang berikutnya di bawah - dengan tiket orchestra 2. Sejujurnya menonton dari balkon memberi kesan regal - agung. Seperti laiknya para bangsawan di film-film itu.

Akan tetapi menyaksikan dari jajaran bangku Orchestra 2 (Row M, hanya 4 baris di belakang Orchestra 1) sudah pasti terasa lebih dekat dan nyata. Beberapa detil seperti sosok yang tergantung, misalnya, sempat luput dari perhatian saya ketika di balkon.

Dari seat Balcony, agak jauh namun berkesan 'mengamati' seakan para pemain benar-benar 'mempersembahkan' akting dan nyanyian mereka untuk saya
Dari seat Orchestra 2, lebih dekat lebih engaging, seakan saya bagian dari cerita yang dimainkan

Baik dari balkon maupun orchestra, saya tetap terjerat. Saya jatuh cinta pada Phantom, lebih tepatnya Phantom yang baru saja memainkan perannya. Mata saya berkaca-kaca ketika pemeran Erik keluar, membungkuk memberi salam pada penonton! >.<

Sayang sekali saya ga bisa menemui Shouvik Mondle, padahal kan pengen ngobrol-ngobrol narsis poto-poto gitu :D

Tapi seperti dalam wawancaranya dengan The Jakarta Globe, ini pertama kalinya Mondle ke Jakarta, dan bukan yang terakhir, janjinya, jadi... saya tunggu yaa mas Phantom, eh, mas Shouvik dan kawan-kawan! :D

Terima kasih Bigdaddy yang membawa The Phantom of The Opera ke Jakarta, ditunggu banget looh opera Phantom versi Webber di Jakarta :D

***
Special thanks: Tabloid Bintang dan Virowater yang memilih saya jadi pemenang kuis Phantom,
follow deh Twitter mereka kali aja besok-besok ada kuis lagi :D

Semua kutipan buku diambil dari ebook The Phantom of The Opera dari Gutenberg Project,
bisa didownload gratis via iBooks for iPad atau

Thursday, January 26, 2012

Finally!! #LarukuJKT!!

The best news I've got today!

L'Arc~en~Ciel akhirnyaaa bakal dateng ke Jakarta! Thank youu thank youuu Marygops Studios! *ciumin kru-nya satu-satu :D
Sumber: www.marygops.com
No hoax, it's official!
Nama Jakarta udah nangkring manis di pojok kiri bawah :D
Sumber: www.larc-en-ciel.com
L'Arc~en~Ciel Jakarta, 2 Mei 2012
Venue: Lapangan D Senayan

Berhubung di Lapangan D Senayan, berarti tiket semua festival, alias berdiri. Diliat dari maketnya di link di atas itu, tinggal posisi aja, yang Premium di depan, Reguler di belakang. Plus dulu-duluan masuk biar dapet tempat bagus. VIP Package itu klo beneran nanti pada prakteknya bakal masuk duluan (ga chaos dll gitu), bisa jadi advantage bgt tuh.

Menurut info, tiket mulai bisa dibeli Sabtu 28 Januari besok. Whoaa... siap-siap neh senggol bacok hahaha...

Are you ready?

Thursday, December 15, 2011

Garuda Di Dadaku 2: Sepak Bola Juga Soal Hati

Sabtu tanggal 3 lalu sebelum ke OnOffID (yang dulunya Pesta Blogger itu) di Epicentrum, saya melipir ke XXI-nya terlebih dulu, dalam rangka nonton sneak peek film Garuda Di Dadaku 2. Makasyiih OnOffID dan Maverick atas invit-nya!

Sumber: www.garudadidadaku.com

Dalam Garuda Di Dadaku 2 ini Bayu (Emir Mahira) harus membuktikan dirinya sebagai kapten Timnas Junior di ajang kompetisi junior ASEAN di Jakarta.

Pastinya itu bukan tugas mudah. Pelatih Timnas mengundurkan diri karena merasa wewenangnya terus-menerus diintervensi oleh pengurus, yang akhirnya membawa Pak Wisnu (Rio Dewanto) sebagai pelatih baru. Pak Wisnu yang keras, mempunyai cara melatih yang sulit diikuti.

Tantangan berikutnya muncul dari sekolah. Meski mengemban tugas penting sebagai kapten timnas, Bayu tetap dituntut untuk mendapat nilai bagus di sekolah. Tugas yang diberikan guru membuatnya harus bekerja ekstra keras mengatur waktu latihan dan kerja kelompok. Ditambah lagi ketua kelompoknya si gadis manis yang galak; Anya (Monica Sayangbati).

Di rumah, Bayu mendapat persoalan lain; Ibu (Maudy Koesnaedi) tampak dekat dengan seorang pria (Rendy Khrisna). Bagi Bayu tak mudah menerima kedekatan tersebut.

Namun Bayu terus melangkah, berusaha membawa timnas menuju final. Adalah Yusuf (Muhamad Ali) - si anak baru dalam tim - yang menarik perhatian dengan permainan memukaunya, menjadi batu sandungan terberat bagi Bayu. Hatinya mulai terisi rasa iri melihat sanjungan orang-orang pada Yusuf, apalagi ketika ia melihat Heri (Aldo Tansani) - sobat kentalnya - sangat dekat dengan Yusuf. Pertengkaran pun tak terelakkan. Bahkan Bang Dulloh (Ramzi) - supir keluarga Heri yang juga sangat sayang pada Bayu pun ga bisa mendamaikan mereka.

Bayu harus menghadapi semua kesulitan dan kegalauan hatinya itu jika ingin mewujudkan mimpi untuk membawa timnas menjadi juara...

*** 

Usai nonton, saya harus acung 2 jempol untuk Garuda Di Dadaku 2.

Jempol pertama untuk jalan cerita yang enak diikuti. Saya merasa konflik seorang Bayu itu dekat dan sederhana. Ga macem-macem, ga aneh-aneh. Naksir teman sekelas, clash dengan sahabat, iri sama teman, rasanya akrab banget ya. Setting pun terasa wajar. Saya paling suka setting rumah dan kompleks dengan gang kecil di mana Anya tinggal (di mana itu yaa?).

Jempol satu lagi untuk akting para aktor dan aktris muda, terutama Emir Mahira. Menurut saya sih akting mereka lebih believable ketimbang para bintang dewasanya.

Faktor pendukung lain yang bikin Garuda Di Dadaku 2 ini makin enak ditonton adalah musiknya. Score dan theme song-nya wokeh!! Terutama pas pertandingan. Dan wardrobe-nya... mauu baju yang dipakai Ibu saat final! *teteup deeh baju yang diperhatiin ^_^

GDD2 pas ditonton sebagai film keluarga. Anak-anak akan terinspirasi dengan semangat Bayu, para orang tua akan belajar melihat dunia remaja... dan para perempuan bisa puas memandangi Pak Wisnu (<== termasuk yang nulis) hahaha... Jajaran pengurus sepak bola di negeri ini pun diharapkan nonton juga yaa :D Oya, jangan buru-buru beranjak dari tempat duduk karena ada footage yang kocak.

GDD2 mulai tayang hari ini 15 Desember di bioskop-bioskop.

Bring your family and enjoy the movie!

Garuda Di Dadaku 2 - Trailer

Bareng sang sutradara; Rudi Soedjarwo
 

My final verdict:

Wednesday, December 14, 2011

Arisan!2: Movie + Meet&Greet

Saya pernah cerita kan, dapat tiket nonton Arisan!2 dari Blibli.com. Sebenernya dapat 2 lembar tiket looh, tapi karena colek sana-sini ga ada yang bisa ikutan, yo wiss pagi itu saya pergi sendiri ke XXI PIM.


Dikisahkan 8 tahun kemudian, Sakti (Tora Sudiro) sudah tidak bersama Nino (Surya Saputra) lagi. Lita (Rachel Maryam) dalam upaya menjadi anggota dewan sekaligus single parent. Andien (Aida Nurmala) setelah ditinggalkan sang suami yang meninggal dunia melanjutkan kehidupannya di kalangan sosialita. Meimei (Cut Mini) secara misterius memilih untuk menarik diri ke pulau sunyi.

Lalu muncul dr. Joy (Sarah Sechan), seorang ahli bedah plastik, tempat prakteknya pun menjadi tempat nyaman untuk arisan. Nino dan Sakti masing-masing sudah tak sendiri; Nino bersama Octa (Rio Dewanto) yang muda dan manis, sementara Sakti menjadi simpanan Gerry (Pong Harjatmo) seorang pria beristri. Sementara itu, di pulau, Meimei mendapat teman baru; dokter Tom (Edward Gunawan), dan Moli (Adinia Wirasti).

Demikian kehidupan mereka sampai suatu hari Sakti mendapati rahasia Meimei tentang penyakitnya. Misteri identitas Gerry pun terkuak. Lalu siapa sebenarnya Ara (Atiqah Hasiholan) - financer dokter Joy? Bagaimana perkembangan yang terjadi mempengaruhi hubungan Nino dan Sakti?

***

Menyimak Arisan!2 ini kadang terkikik kadang terharu. Sepanjang film saya terhibur dengan kelucuan-kelucuan di dalamnya. Apalagi Octa yang manis itu dengan kalimat khas-nya "foto dulu doong mau di-twitpic" (or something like that) LOL. Dokter Joy yang sebentar-sebentar mengingatkan tentang kerut-kerut di wajah juga nyentil banget.

Kita juga bakal dimanja dengan keindahan Gili Trawangan, Lombok... dan tentu saja pilihan wardrobe-nya! Kayanya musti bikin deh satu posting soal wardrobe di Arisan!2 :D

Buat saya pribadi, tokoh yang dekat dengan saya tentunya Meimei. Saya tidak tahu maksud dari Nia Dinata dalam narasi seorang Meimei. Saya juga tidak tahu bagaimana orang lain memaknainya. Mungkin pendapat saya bertentangan dengan maksud dari film ini; karena tagline-nya "Now what are they looking for" mungkin "menikmati hidup" adalah jawabannya. Tapi pandangan saya tentang Meimei justru sebaliknya. Saya merasa karakternya mewakili saya banget. Saya jadi sadar seperti itulah saya beberapa tahun ini; sakit, menyerah, berhenti meminta pada Sang Kuasa, dan melarikan diri dengan alasan menikmati hidup.

Keluar dari Studio XXI PIM saya seperti diingatkan kembali tentang esensi doa - yang bertolak belakang dengan yang ditawarkan di film ini - yaitu meminta dan tidak berputus asa pada-Nya. Karena Dia memang tempat meminta toh? Setidaknya, seperti itulah Tuhan yang saya tahu, Dia suka umatnya meminta pada-Nya.

Overall, Arisan!2 ini cukup menghibur. Tidak harus memuji dengan cara menyatakan persetujuan. Masing-masing akan punya interpretasi dan menarik inspirasi sendiri-sendiri.

Video Clip Arisan!2 : Cinta Terlarang, Rio Dewanto
Sumber: Arisan!2 Channel

Dan.. ow oow.. kan saya udah bilang ada meet n greet juga, jadii.. sempet deeh foto-foto sama beberapa pemerannya :D Sialnya, saya bawa kamera yang ga ada baterenya!! *tepok jidat pake donat. Jadilah pake kamera hape yang kualitasnya -_- Di saat penting ga bawa kamera itu... sedihh! >.<

Oya, thanks buat yang motoin ^_^ Big thanks buat Blibli.com yang udah ngasih tiketnya :-*

Bareng Cut Mini
Bareng Edward Gunawan & Aida Nurmala

My final verdict:

Monday, December 12, 2011

L'Arc~en~Ciel Movie Event: Half A Dream Came True

Perkenalkan band yang sudah lebih dari 10 tahun jadi band favorit saya; L'Arc~en~Ciel. Ibarat kata, saya tumbuh dewasa bersama lagu-lagu mereka. Jatuh cinta, patah hati, galau di masa muda bareng lirik-lirik lagu Laruku *tsaah! ^_^

Sumber gambar: L'Arc~en~Ciel

Minggu, 11 Desember sore kemarin, saya nonton movie konsernya di XXI Epicentrum. Movie diambil dari konser 20th L'Anniversary di Ajinomoto Stadium, Jepang, yang aslinya diadakan 2 hari; 28 dan 29 Mei 2011 lalu. Event movie viewing Laruku di Jakarta ini adalah bagian dari Movie Event 20th L'Anniversary yang diadakan di seluruh dunia.

Sumber gambar: Youtube

Aslinya di Jakarta hanya 2 hari (5 dan 10 Desember), dan saya menyerah ga dapet tiket. Gigit hape aja liat tweet dari @cinema21 yang bilang tiketnya SOLD OUT, sambil berkata menghibur diri, "Nanti nunggu DVD-nya ajah" :p Eee ternyata angin baik bertiup di suatu siang yang bolong.. ada extra show tanggal 11! Buru-burulah saya sms @Cielers_ID buat nitip tiket. Dapet juga deh... yaay yaay! Thanks @Cielers_ID!

Moga tahun depan saya bisa pamerin tiket konser Laruku! Amiin..!!

Dikemas ke dalam film berdurasi 2 jam, Studio 1 XXI digemuruhkan oleh 19 lagu Laruku. Tidak sampai setengah dari jumlah lagu yang dinyanyikan di 2 hari konser tersebut yang totalnya 45 lagu, jadi banyak juga lagu favorit yang ga muncul. Ya tapii.. klo diputer 2 hari konser lengkap bakal 4 jam lebih di bioskop :p

Sepanjang movie, tentunya saya paling semangat saat lagu2 lawas mereka dimainkan seperti Caress of Venus, Lies and Truth, Anata... Ya maklum, fans udah berumur ahahaha... Sedang lagu yang lengkap saya ikutan nyanyi pastinya flower. Yang paling seru Stay Away (lengkap dengan atribut pisangnya :D) dan Blurry Eyes dengan intro carousel yang keren. Sempet berkaca-kaca saat lagu penutup Bless - apalagi sebelumnya Hyde sempet nangis juga. Tapi yang nempel terus di kepala, yang terus2an digumamkan sampe di rumah itu justru Driver's High.

View di dalam studio

Konon konser itu dihadiri sekitar 100.000 penonton. Nyaris satu stadion penuh terpakai untuk arena konser. Tapi yang paling bikin bengong itu; betapa rapinya penonton yang di bawah - saya berasumsi itu kelas Festival? Ow oow.. ternyata mereka diberi kursi! Meski akhirnya tetep berdiri jingkrak-jingkrak tapi rapiiii jaliii...!! Mungkin ga yaa yang kaya gitu diterapin di GBK nanti *tsaah udah ngayal aja mereka bakal manggung di GBK :D

Sambil nyanyi-nyanyi saya juga sempet merhatiin Tetsu yang tampak older and tired gitu ya wajahnya; eye bag-nya itu looh *sodorin eye-cream n concealer :p Sementara Hyde, alamaak mulus amat wajahnya.. pake skin care n foundation apa yaak diaa?? >.<

Style masing-masing personel juga ga luput dari perhatian. Hyde yang di hari pertama bergaya ala.. hmm.. Jack Sparrow? Hyde emang yang paling heboh ya. Lalu Tetsu yang memakai jersey bertulis LEC 1991 dengan gitar pink bertuliskan "Keep Calm and Carry On"-nya (yang dimaksudkan untuk gempa bumi di Jepang bukan ya?). Patut diperhatikan itu sepatunyaa cakep..! :D Yuki yang simpel. Ken, the stylish. Keren dia dengan long coat dan long scarf di Day 1.

Jujur sejujur-jujurnya, nonton film konser Laruku terasa agak "menyedihkan". Kesiaaan deey cuma bisa nonton film-nya doang hikz hikz... Tepok tangan, jejeritan di dalam studio 1 XXI itu berasa sedikit konyol. Etapiii... ya gpp juga, selain seru, juga ikut berpartisipasi demi perjuangan membuat Laruku melirik Jakarta sebagai salah satu tujuan world tour mereka. Lagian, klo nonton DVD konser di rumah juga jejeritan sendiri jee ya mending rame-rame.. :p

Tiket nonton movie ini Rp 100.000. Serius, mahal cyiin! Tapi studio berkapasitas 500 seat itu selalu penuh di 3 kali pemutaran! Jadi terbuktilah, kalo fans Laruku di Indonesia itu serius, beneran bakal nonton klo mereka ngadain konser di sini. Biarpun mahal... Tapi ya jgn mahal-mahal yaaa *ujung2nya memelas :p

My heart draws a dream... dan setengahnya sudah menjadi nyata. Terima kasih ke semua pihak yang sudah menyelenggarakan event ini.

Sampai jumpa lagi tahun depan di GBK yaa..!! Amiin...! *sambil nabung, cemplungin koin ke celengan ^_^

Movie Setlist:
1. In The Air
2. Caress of Venus
3. Dune
4. Blurry Eyes
5. Lies and Truth
6. flower
7. Shout at the Devil
8. Anata
9. Niji
10. Ready Steady Go
11. Heaven's Drive
12. Driver's High
13. Drink It Down
14. Shinsouku ~ lose control
15. Stay Away
16. Link
17. Hitomi no Juunin
18. Goodluck My Way
19. Bless

Friday, July 29, 2011

The LXD: Season 3 is Coming!

Whoaa.. sorry to get super excited! Saya ini tergila-gila setengah mati sama The LXD! The LXD aka The Legion of Extraordinary Dancers adalah sebuah web series arahan Jon Chu. Singkatnya sih, kisah The LXD ini tentang pertarungan si baik lawan si jahat, with a twist! Tentang superpower, tapi ga sembarang superpower. Ini adalah superpower yang dihasilkan dari tarian. Ho!

Selain sebagai web series, para member The LXD sering perform di berbagai acara; So You Think You Can Dance, TED, bahkan Oscar! Cinta saya bersemi merekah (*lebay :p) sama The LXD sejak pertama liat performance mereka di SYTYCD Season 6. Waktu itu saya sampe nangis. Keren banget! Langsung Googling, langsung nonton web seriesnya. They're just awesome!

Performance The LXD di SYTYCD,
my first encounter

Di Season 1 saya naksir sama Copeland.. hehe.. yang main Chris Scott; seorang tapper, yang juga salah satu koreografer web series ini. Soalnya Episode 10: I seen A Man di mana Copeland pertama kali muncul itu keren banget. Itu episode favorit deh. Tapi masuk Season 2 saya lebih suka sama Pak Guru Spex (ihiiy Pak Guru :D) sama Sp3cimen yang masing-masing diperankan oleh dan Steelo Vasquez dan Madd Chadd. Oya, mungkin buat yang sering nonton Glee pasti familiar sama Harry Shum, Jr., di The LXD dia main juga dengan style tari hip-hop, plus jadi tandem Chris Scott sebagai koreografer. Yang udah nonton Step Up 2 & Step Up 3D juga pasti ga asing lagi sama sebagian besar anggota The LXD.

Copeland (Chris Scott), Sp3cimen (Madd Chadd), Elliot (Harry Shum, Jr) | Pic source: The LXD on FB

Dan Season 3 bakal segera hadir! Woohooo!! Semalam, trailernya keluar.. Aaah.. excited banget!


Oooh cepatlaah keluar Season 3..! Ga sabar ga sabar..

PS: The LXD ini sebenernya web series yang bisa ditonton secara gratis via internet. Tapi sayangnya sekarang tayangnya di Hulu.com yang manaaa kita yang di Asia ini ditolak gitu, cih! :p Tapi, karena ini free web series jadi gpp dong kita usaha cari donlotan :D Kalo pengen nonton, bisa comot di sini.

Thursday, June 23, 2011

Catatan Harian Si Boy: Lahirnya Reinkarnasi Boy

Catatan Si Boy datang lagi? Saya excited bgt waktu denger klo akan ada film baru Catatan Si Boy. Ketika kecil dulu (iya saya belum setua itu, jd waktu jaman CaBo masih kecil, bukan remaja ya catet penting tu cing :p) saya ga pernah absen dengerin CaBo di radio Prambors. Meski cuma nonton satu dari sekian filmnya, tapi nama Boy begitu iconic di telinga saya. Klo denger kata "Boy" yang terlintas pertama pasti Boy di CaBo.

Maka di sanalah saya hari Selasa 21 Juni kemarin, tepatnya di XXI Epicentrum untuk acara nonbar dan press conference film yang ditunggu-tunggu itu, deg-degan menanti Boy masa kini.

Dan kesan saya setelah menontonnya? It's such a fresh entertaining movie!


Pertama yang perlu dicatat, judulnya kini adalah Catatan Harian Si Boy. Film perdana Tuta Media ini, seperti yang ditekankan oleh Putrama Tuta (sutradara dan produser), bukan remake, melainkan regenerasi tokoh Boy. Tepat 20 tahun setelah sekuel ke-5 film CaBo dan 40 tahun Radio Prambors, Tuta ingin mengambil karakter positif Boy untuk ditampilkan dalam karakter Satrio dalam Catatan Harian Si Boy.

Adalah Satrio (Ario Bayu), seorang cowok metropolitan yang baik, setia kawan, rajin ibadah, tapi seperti layaknya anak muda biasa, agak bandel. Untuk mendapat uang tambahan, Satrio sering ikut balap liar di Bundaran HI. Pastinya, Satrio jadi rajin juga diboyong ke kantor polisi. Begitu pula malam itu.

Di tempat lain, Natasha (Carissa Puteri) yang baru pulang dari London dan pacarnya Nico (Paul Foster) pergi ke rumah sakit untuk menjenguk mama Natasha - Nuke - yang sakit keras. Dalam keadaan tak sadarkan diri, Nuke selalu menggenggam sebuah buku harian. Dokter memberikan buku harian itu kepada Natasha, yang segera bertekad untuk menemukan pemilik buku harian tersebut, yang mungkin akan bisa membantu sang mama terlepas dari maut.

Di tengah jalan pulang dari RS, Nico dan Natasha dicegat beberapa orang yang langsung menghajar Nico dan mengambil mobil Nico. Nico dan Natasha pun ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian tersebut. Di kantor polisi itulah Satrio dan Natasha bertemu. Di sana pula, Natasha berkenalan dengan adik Satrio - Putri (Tara Basro), serta 3 sahabatnya Andi (Abimana), Nina (Poppy Sovia), dan Herry (Albert Halim).

Mendengar kisah Natasha, Satrio merasa simpati dan bermaksud membantu untuk menemukan Boy - pemilik buku harian itu. Namun ternyata bertemu dengan Boy bukanlah hal yang mudah. Ditambah lagi cinta segitiga yang muncul, preman yang mengobrak-abrik bengkel Nina.

Persahabatan serta keteguhan untuk menuntaskan tujuan yang sudah ditetapkan sedang diuji.


Menurut saya, film ini sukses mengambil unsur-unsur CaBo di tahun 80-an. Karakter Boy di masa itu seperti lahir kembali dalam diri Satrio. Karakter Andi dan Herry sebagai sahabat Satrio bagaikan reinkarnasi Kendi dan Emon. Benang merah dengan CaBo the movie juga tetap dijaga, seperti dengan menghadirkan kembali Ongky Alexander sebagai Boy, Btari Karlinda sebagai Ina dan Didi Petet sebagai Emon. Meski ga meninggalkan beberapa pakem khas Boy, semua karakter di Catatan Harian Si Boy terasa segar dan baru.

Banyak adegan seru, lucu dan haru di film ini. Rasanya teater 2 XXI Epicentrum siang itu ga pernah sepi dari suara tawa. Tapi ada juga beberapa adegan yang mengharukan seperti ketika Satrio akhirnya mau menjenguk ayahnya (Roy Marten) yang mendekam di penjara karena korupsi.

Hal lain yang menarik perhatian saya adalah wardrobe-nya! Saya mengenali beberapa local brand di sana, antara lain utilitarian pants-nya Cotton Ink yang dipakai Natasha di awal film. Baik untuk karakter cowok maupun cewek, wardrobe-nya oke dan terasa "dekat".

"Kita ini keluarga, ga selamanya keluarga adem ayem" buat saya pribadi, kalimat simpel Andi itu paling melekat buat saya. Bagaimana untuk tetap saling mendukung dalam keluarga dan persahabatan, tidak menyerah dan tetap berupaya menyelesaikan apa yang sudah dimulai, itu yang saya bawa pulang setelah menonton film ini.

Catatan Harian Si Boy akan dapat dinikmati di bioskop-bioskop seluruh Indonesia mulai 1 Juli nanti. Kalian musti nonton, dijamin terkikik-kikik dari awal sampe akhir, sampe di rumah juga :D

Putrama Tuta, sutradara dan produser Catatan Harian Si Boy
Ario Bayu (Satrio) dan Carissa Puteri (Natasha)
Ario Bayu, cocok banget sbg sosok regenerasi Boy
Our lovely Carissa Puteri, pas bgt  jadi anaknya Nuke :D
Albert Halim (Herry) dan Abimana (Andi)
Poppy Sovia (Nina).. pas lagi ngedit baru sadar Poppy melet pas saya foto haha :D
Tara Basro (Puteri)
Paul Foster (Nico)
Di film boleh musuhan dan pasang tampang angker, tapi di dunia nyata akrab dan ketawa-ketiwi dong
All line up
The car
The goodies - earphone by Toshiba
The goodies - notebook

*Big thanks to ONEPR, for the invitation :).

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails