Showing posts with label Books. Show all posts
Showing posts with label Books. Show all posts

Wednesday, November 7, 2012

Hore Saya Punya Blog Buku!

Mau woro-woro promo blog baru :D

Selama ini saya selalu menuliskan buku apa aja yang udah dibaca di sidebar, ga lupa membanjiri linimasa dengan tweet berisi quote buku atau karakter-karakter tampan dari buku. Akhirnya, demi memenuhi harapan para penghuni timbunan buku untuk juga eksis di dunia perbloggeran, saya melahirkan blog buku:

di

Masih bayi, bahkan belum sempat bikin header-nya :p

Kenapa namanya Ngidam Buku, abisnya saya selalu mengidamkan buku sampe ileran. Ga berhenti menambah warga timbunan meski kecepatan membaca bersaing sama becak.

Eniwei, nantinya kategori Books di Living Daisy ga akan ada update lagi. Semua posting yang berhubungan sama buku, adanya di blog buku itu.
 
Beberapa waktu lalu udah ada soft launch giveaway, sudah tutup, tapi jangan khawatir, bakal ada giveaway-giveaway lanjutan, doakan saya! :D Juga ada reading event di mana kita bisa baca bareng dan diskusi.

Jadi, mampir-mampir yaa... ;)

Friday, March 16, 2012

Buku Gratis Setiap Hari? Mau!

Yap, kamu ga salah baca!

Rabu kemarin saya menjemput buku gratis di Leksika Bookstore Kalibata City. Ga pake syarat macem-macem tinggal datang jam 13.00 & 19.00 trus tunjukin KTP untuk didata, bawa pulang deh buku gratisnya.
Sumber: Facebook Leksika Kalibata City

Buku yang ditawarkan setiap harinya berbeda-beda. Kebetulan sekali hari itu buku gratisnya Nadrenaline - buku traveling tulisan Nadine Chandrawinata. Saya memang lagi pengen buku itu karena penasaran (selalu deh alasannya penasaran :p) dan juga karena Sabtu besok mau ada book signing-nya :D

Kalibata City ga terlalu jauh dari lokasi saya, tapi sebenarnya ga terlalu dekat juga. Meski begitu menjangkaunya cukup mudah, makanya saya berangkat. Naik kendaraan umum 2 kali selama kurang lebih 30 menit. Total pengeluaran 20rb rupiah untuk angkot dan es krim Magnum (yg dibeli karena Rabu kmrn panas benerrr :p), plus dapet buku yang dipengen; gratis! Hepi? Jelas! \^_^/

Rp. 39.000 ==> Rp 0

Buku-buku yang disediakan Leksika dalam program buku gratis ini bagus-bagus loh. Tapi, satu orang hanya bisa mengambil jatah 1 buku per minggu. Jadi ga bisa tiap hari sih, yaaah kecuali kalo kamu nitip orang yang beda-beda tiap hari (niat banget :p) Tapi dengan begitu, kita pasti akan mengambil buku yang memang kita minati, kalo ga terlalu pengen ya biar buat yang lain aja yang lebih menginginkan, betul? ;) Pilihannya pun dari berbagai genre, jadi pasti ada buku yang pas untuk semua orang.

Beberapa buku lain yang pernah masuk daftar buku gratis

Petugasnya juga ramah bgt kok, bukan tipe yang bete sinis gitu sama yang ngambil gratisan :D

Asik kan?

Untuk info buku gratis apa yang ditawarkan setiap harinya, follow aja @Leksika_KC.

Saya baru bisa ambil jatah lagi minggu depan, deg-degan nih kira-kira bukunya apa yaa? :D

***
Tambahan
Tata cara claim buku gratis:
- Registrasi dulu (bagi yang mengambil untuk pertama kali), kemudian antri untuk mengambil buku. Atau, antri dulu, ambil buku, kemudian ke bagian layanan pelanggan untuk registrasi. Kadang petugas akan menyarankan yang demikian supaya ga keburu kehabisan bukunya.
- Buku akan dibagikan dalam jumlah terbatas, pada jam 13.00 & 19.00, datanglah lebih awal supaya kebagian. Untuk buku yang banyak peminat kadang antrian sudah panjang sebelum waktu pengambilan dibuka.
- Satu orang hanya dapat mengambil buku gratis 1 buah setiap minggunya. Semisal kita ambil hari Senin, maka baru bisa ambil lagi Senin berikutnya.
- Selamat berjuang! Semoga dapet buku gratis yang dipengen yaa! ;)


Tuesday, March 13, 2012

Berburu tanda tangan @IslamicBookFair 2012

Hari Minggu 11 Maret kemarin saya melipir ke wilayah Senayan tepatnya Istora untuk menyambangi Islamic Book Fair 2012. Saya cukup rutin ke IBF (yah tepatnya sih rutin ke berbagai book fair :p) dan  biasanya saya datang di hari terakhir - saat padat-padatnya pengunjung itu. Agak berbeda, kali ini saya sudah ke sana di hari ke-3. Tapi rupanya, meski baru hari ke-3 ramainyaaa sudah luar biasa. Mungkin karena hari Minggu juga ya.

Jadi, apa yang dicari di IBF? Wah ini jawabannya bisa jadi essai sepuluh halaman :p Yang sudah jelas, di sana banyak buku dari berbagai penerbit yang dijual dengan harga miring. Kalau ada buku incaran yang kemaren-kemaren belum kebeli karena alasan dana, inilah saatnya. Tentu saja, karena IBF, kebanyakan yg dijual adalah buku-buku Islami. Novel pun umumnya novel2 Islami. Tetapi beberapa stand membawa serta beberapa koleksi novel umum mereka.

Namun bagi saya, IBF kali ini lebih untuk mengincar ilmu baru ketimbang buku baru (soalnya buku baru udah menumpuk niih :p), makanya fokus saya lebih ke acaranya baik yang digelar di Panggung Utama maupun Ruang Anggrek.

Maka yang membuat saya ke sana hari itu adalah acara launching buku Sejuta Pelangi Oki Setiana Dewi. Kenapa launching buku tersebut yang pertama menarik perhatian saya? Selain faktor Oki yang seorang artis, juga faktor cover buku yang saya kenali jenis alphabet dan embellishment yg dipakai :p Dan, karena ini launching biasanya ada book signing juga :D

Dan benar saja, karena saya agak kesiangan, suasana panggung utama sudah dipadati pengunjung yang ingin melihat OSD (singkatan populer untuk Oki Setiana Dewi).

Menghadiri launching Sejuta Pelangi ternyata harus kuat mental. Bukan apa-apa, bikin terharuuu bgt. Bikin ini air mata mendesak-desak pengen membanjir. Sosok OSD ini subhanallah... Muda, cantik, artis terkenal, dan memanfaatkan posisinya untuk menggerakkan banyak orang menuju kebaikan. Seperti kata Astri Ivo yang juga hadir di sana, mensyukuri semua nikmat Allah itu dengan berbuat, dan @oki_setiana membuktikannya dengan berbuat bagi lingkungan.

Oki sepertinya memakai busana yang sama dengan yg dikenakan di cover bukunya ya?

Usai launching saya langsung menuju stand Mizan. Karena menurut prediksi booksigning with OSD pasti bakal rame, jadi ketika tahu ada Sejuta Pelangi edisi khusus bertanda tangan saya langsung ambil yang itu saja. Diskon 20%.


Saya sudah mengantongi satu buku. Lalu berkelilinglah saya, menclok dari satu stand ke stand yang lain. Sembari melihat2 saya menyempatkan diri buka Twitter dan kebetulan bgt liat tweet mba @Helvy katanya mau booksigning bersama sang adik @AsmaNadia di stand Toko Gunung Agung. Whoaa! Ini juga ga boleh dilewatkan.

Acaranya masih cukup lama, tapi inilah enaknya pameran di Istora, ada banyaaaak bangku di sana :D Jadi saya ngaso dulu sebelum acara book signing dimulai.

Sayangnya buku2 di stand Gunung Agung hanya didiskon 10%. Mulanya saya cuma beli Ketika Mas Gagah Pergi... dan Kembali (versi baru Ketika Mas Gagah Pergi), tapi lalu juga mencomot Twitografi Asma Nadia. Jadilaah saya minta tanda tangan keduanya plus... foto bareng! \^_^/

Bareng Helvy Tiana Rosa
Bareng Asma Nadia, mba Asma ini selalu menulis "Think Big!" setiap kali membubuhkan ttd di bukunya utk menyemangati pembacanya

Tiga buku tiga tanda tangan dan dua foto bareng. Lumayan juga ya :D

Penerbit: Asma Nadia Publishing
Lokasi: Stand Toko Gunung Agung
Ketika Mas Gagah Pergi... dan Kembali - Helvy Tiana Rosa
Twitografi Asma Nadia - Asma Nadia

Penerbit: Mizania
Lokasi: Stand Mizan
Sejuta Pelangi - Oki Setiana Dewi

Ga terasa dari jam 11 siang hingga setengah 5 sore saya di area IBF dan kaki sudah mulai protes minta diselonjorin, jadi pulanglah saya dengan membawa 4 buku.

Eh? Tunggu deh... 4? Bukan 3? Bukan, karena ada satu lagi buku yg memang saya incar, sama sekali bukan buku Islami sih tapi saya tahu penerbit satu ini selalu memberi diskon mantab di saat book fair, jadi saya menyempatkan diri mencari dan tentu saja membeli. Diskon 40%. Bukunya ini... :D
 
Penerbit: Ufuk
Lokasi: Stand Ufuk
Pretty Little Liars - Sara Shephard
Masih ada stiker harganya tuh, 27rb saja! :D
Misi hari ini sukses!

Sampai di rumah langsung sibuk baca-baca jadwal acara IBF. Serius deh, acara2nya bagus-bagus. Talkshow, launching dan bedah bukunya bikin pengen dateng tiap hari! Tapi jelas ga mungkin tiap hari ke sana. Saya masih menimbang-nimbang nih hari apa lagi ya enaknya ke sana?

***

Islamic Book Fair 2012
9 - 18 Maret 2012
Jadwal acara:


Wednesday, February 1, 2012

Book Quote: Clockwork Angel


"Mencintai sama hebatnya dengan dicintai.
Cinta bukanlah sesuatu yang bisa tersia-sia"
James "Jem" Carstairs, hal. 629

"Aku tahu kau tidak merasa seperti manusia, dan kau merasa berbeda, jauh dari hidup dan cinta, tapi...
Aku janji, laki-laki yang tepat tidak akan peduli"

James "Jem" Carstairs, hal. 631-632


Friday, October 21, 2011

Ke Depok Jostein Gaarder Kukejar

Jadi, setelah beberapa hari lalu saya menulis tentang pertemuan dengan Jostein Gaarder di Gramedia Matraman Jakarta, ini adalah kelanjutannya.

Merasa belum puas dengan satu jam bersama pengarang yang terkenal dengan Dunia Sophie-nya ini, pada Rabu 12 Oktober, sehari setelah jumpa penggemar itu, saya pun melancong ke Depok tepatnya Perpustakaan Universitas Indonesia.

Perjalanan dari rumah saya ke Depok itu bukan perjalanan yang terlalu mudah. Selain jauh, itu pertama kalinya saya pergi ke sana seorang diri! Buta arah, buta kendaraan, modalnya tanya sana-sini.. ow satu lagi, hanya dengan berbekal uang 25ribu rupiah :D (ini gara-gara kemarinnya lupa ke ATM hehe) Jadi ga ada opsi untuk yang namanya taxi! :p Tantangan lainnya, harus tiba sebelum pukul 10 pagi, so.. tak ada ruang untuk nyasar yang biasanya menjadi kebiasaan saya haha...

Tapi saya harus melakukannya, tidak bisa tidak. Jostein Gaarder bukan sekedar penulis terkenal, saya mungkin tidak akan terlalu peduli jika beliau hanya sekedar penulis terkenal. Kata "terkenal" tidak mengandung makna apapun bagi saya. Beliau adalah penulis yang tulisan-tulisannya punya tempat khusus di hati saya, kesempatan ini entah kapan akan datang lagi. Jadi.. mari kita berpetualang! :D

Misi saya ke Perpustakaan UI ada 2:
1. Menemukan titik temu antara filsafat dan lingkungan, yang masih belum saya pahami
2. Foto bareng oom Jostein! :D

Jostein Gaarder hadir di Perpustakaan Universitas Indonesia dalam rangka memberi kuliah umum dalam rangkaian Polar Norway Exhibition.


Acara ini, karena di kampus, agak lebih formal ketimbang acara di Gramedia tentunya. Meski demikian, Jostein sempat berseloroh soal kebiasaannya minum coke saat memberikan kuliah "Saya mestinya dibayar oleh Coca Cola Company, nih!" LOL Dari Penerbit Mizan yang menjadi host di acara hari Selasa, saya tahu bahwa beliau ini selalu minum saat talkshow atau sejenisnya, dan minumannya tidak pernah "bening" :D

Fokus hari itu adalah tentang pelestarian lingkungan.

Jostein kembali mengutarakan, "Jika saya harus memilih antara hidup panjang tetapi bumi rusak atau mati hari ini tetapi bumi tetap lestari, maka saya akan memilih untuk mati sekarang saja."

Lalu tibalah sesi tanya-jawab, di mana saya selalu kalah cepat :p, namun untungnya pertanyaan yang sama ada yang menanyakannya.

Tentang Dunia Sophie, Sophie Prize, filsafat dan lingkungan
Sekali lagi Jostein menegaskan jika saja ia menulis buku itu hari ini, isinya akan berbeda. Ia tidak menulis tentang lingkungan, karena kita lebih peduli terhadap lingkungan saat ini ketimbang 20 tahun yang lalu saat beliau menulis Dunia Sophie.
Bahwa pertanyaan paling filosofis saat ini adalah bagaiamana kita bisa menjaga kelestarian alam ini.

Daan.. akhirnya keluarlah kata kunci itu; "earth is part of my identity"
Itulah aha! moment saya. Seketika saya paham.

Jika bumi dan alam ini adalah bagian dari identitas kita, bagian dari jawaban atas pertanyaan paling mendasar "Siapa saya?" maka wajarlah jika kita tidak ingin kehilangan identitas tersebut, kita harus menjaga agar bumi ini lestari!

Bagaimana mempertahankan kelestarian bumi agar terhindar dari kerusakan, sejalan dengan bagaimana kita bisa tetap berpegang pada identitas diri agar tidak kehilangan jati diri sebagai manusia. Manusia, yang tidak akan ada jika bumi ini tidak tersedia untuk tempat kita tinggal.

Rasanya, saat itu juga saya ingin memeluk oom Jostein karena sudah memberi pencerahan di hari yang luar biasa cerah itu :D

Semoga, kelak akan ada dari Indonesia yang meraih Sophie Prize yaa!



***

Misi pertama sukses!

Selanjutnya, Jostein Gaarder memberikan sesi tanda tangan di area Polar Norway Exhibition.

Saatnya menjalankan misi ke-2. Hari itu saya membawa Bibbi Bokken untuk ditandatangani. Sebenarnya di sana Times Bookstore membuka stand dan menjual beberapa buku yang belum saya miliki, sayangnya saya tidak membawa uang *tepok jidat tiga kali. Jadi, cukuplah Bibbi Bokken saja.

Bibbi Bokken sayapun ga mau kalah ikut bertanda tangan :D

Saya adalah orang ke-3 di barisan antrian yang segera mengular di belakang saya. Daan.. akhirnyaaa bisa berfoto bareng oom Jostein..! Yaaaay!! Makasiih yaa oom, dan makasiiih banget sama yang ngantri di belakang saya yang udah bersedia motoin *pelukcium


Keseluruhan pengalaman itu rasanya seperti mimpi. Saya benar-benar menikmatinya. Kapan-kapan datang lagi ya oom Jostein! Nanti saya traktir coke deh :D


Monday, October 17, 2011

Akhirnya! Bertemu Jostein Gaarder!

Pertama-tama ijinkan saya membuka posting ini dengan “Gyaaaa~!!” :D

Ya, bukan sulap bukan sihir, Jostein Gaarder memang hadir di Jakarta. Dan saya, sebagai penggemar Dunia Sophie ga mungkin rela melewatkan kesempatan bertemu beliau.

Dunia Sophie sudah bertengger di posisi atas daftar buku terfavorit saya selama.. hmm.. berapa tahun ya..? 10 tahun? Kurang-lebih. Yang jelas, buku ini, biarpun setelahnya saya membaca berbagai buku yang tak kalah menawan tapi tetap bisa bertahan sebagai jawara di hati saya. Bukan hanya karena pelajaran filsafatnya, tapi terutama karena kejutan luar biasa tentang kebenaran identitas Sophie sang tokoh utama!

Saya masih ingat ketika itu membaca Dunia Sophie di tempat tidur (jangan ditiru ya adik-adik :p), ketika sampai di bagian penyibakan siapa Sophie sebenarnya, saya langsung ternganga, lalu tertawa terbahak-bahak seraya melempar buku itu (ke ranjang kok melemparnya, saya kan sayang buku :D). Saya berkata, “Ini sinting!” Saya belum pernah dipermainkan oleh cerita begitu rupa selain oleh Dunia Sophie, dan karenanya saya penasaran siapakah yang menulis buku sesinting itu :D

Dan, hari Selasa dan Rabu 11-12 Oktober lalu saya, akhirnya, memuaskan rasa penasaran itu! Jostein Gaarder hadir di Jakarta; Selasa di Gramedia Matraman dan pada hari Rabu-nya di Perpustakaan UI Depok untuk memberikan kuliah umum.

Perasaan saya ketika pertama kali melihat beliau benar-benar tak terkatakan. Ini dia orangnya! Ini dia, yang telah mempermainkan saya dengan Dunia Sophie-nya!! :D


Jostein Gaarder, pria kelahiran Oslo, Norwegia 8 Agustus 1952 itu hadir di lantai 1 Gramedia Matraman Jakarta sekitar pukul 12 siang. Bertubuh tinggi besar, saya pikir suara beliau akan berat tetapi ternyata suara dan gaya bicara beliau terdengar ringan dan lincah, segera mengingatkan saya pada Pak BJ Habibie :)



Dalam acara yang dipadati fans Jostein Gaarder tersebut, beliau mengungkapkan beberapa hal..

Tentang anak-anak dan filsafat
 Jostein banyak menjadikan anak-anak sebagai tokoh utama ceritanya, meskipun cerita tersebut cukup “berat” dan mengandung banyak mengandung filsafat. Menurut beliau, anak-anak selalu terpesona pada apapun, sedang orang dewasa mudah terbiasa pada semua hal.

Jostein mengambil contoh dongeng HC Andersen yang berjudul The Emperor’s New Clothes (Baju Baru Kaisar) dimana seorang raja memamerkan baju barunya yang luar biasa yang hanya bisa dilihat oleh orang pandai. Tak seorang pun tidak merasa heran dan justru ikut memuji pakaian sang raja karena tidak mau dianggap bodoh karena tidak bisa melihat baju sang raja. Dan seorang anaklah yang dengan heran dan jujur berkata, “ Dia telanjang!”

Jostein Gaarder juga mengungkapkan bahwa sejak kecil sudah merasa bahwa ia merupakan bagian dari misteri, dari sesuatu yang lebih besar.

Tentang karya favoritnya
Jostein mengatakan, meski sulit untuk memilih karena ia menyukai semua karyanya seperti seorang ayah mencintai semua anak-anaknya, ia menyebut The Solitaire Mystery (Misteri Soliter) dan The Ringmaster’s Daughter (Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Mimpi) sebagai tulisan favoritnya. Jostein juga mengaku sangat menyukai Cecilia - tokoh anak perempuan dalam Through the Glass, Darkly yang sangat melekat di hatinya seakan-akan ia putrinya sendiri. (Jostein tidak mempunyai anak perempuan, beliau hanya memiliki anak laki-laki)

Tentang buku, cerita dan surat
Menurut Jostein, informasi apapun jika disampaikan dalam bentuk cerita akan lebih mudah diingat dan melekat lebih lama dalam memori kita.

Dalam novel-novelnya Jostein banyak bercerita melalui surat. Mengapa surat? Karena ia ingin menceritakan sebuah kisah, dan juga kisah di luar kisah tersebut. Seperti halnya ketika seseorang menceritakan tentang mimpi yang dialaminya, maka informasi yang kita dapatkan bukan hanya tentang mimpi tersebut tetapi juga mengenai orang yang mengalami mimpi itu. Di balik sebuah kisah yang diceritakan di dalam surat, terdapat keberadaan sang penulis. Dari sebuah surat, kita bisa mendapatkan identitas sang penulis sekaligus cerita di balik surat tersebut.

Ketika menulis Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken, yang ditulisnya atas permintaan untuk membuat buku tentang buku, Jostein menulis bersama Klaus Hagerup. Dalam proses penulisannya, Jostein dan Klaus bertukar materi penulisan melalui fax, sehingga nyaris seperti kedua tokoh dalam buku tersebut yang saling bertukar buku surat.

Jostein mengagumi betapa teknologi telah begitu maju. Kini tak perlu lagi repot bertukar tulisan melalui fax, sudah ada email. Jostein juga menyinggung tentang The Castle of The Pyrenees di mana tokoh utamanya saling berkirim email, bentuk lain dari surat-menyurat.

Tentang Dunia Sophie
Jostein menceritakan bahwa Dunia Sophie ditulisnya tanpa ekspektasi apapun. Jostein bahkan mengira buku tersebut tidak akan laku sampai-sampai beliau berkata pada sang istri, “ Aku sedang menulis buku yang tidak akan menghasilkan uang” yang serta-merta dijawab oleh istrinya, “Kalau begitu, cepat selesaikan!” :p

Seandainya tahu bahwa buku tersebut akan sangat laku dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, bahkan India, Indonesia, Jostein akan memasukkan lebih banyak lagi ke dalam buku tersebut termasuk di dalamnya filsafat India, Muslim, Sufi, dan lain-lain.

Tentang Sophie, wanita dan filsafat
Tak pelak Dunia Sophie adalah karya Jostein yang paling identik dengan filsafat, meski filsafat banyak juga dimasukkan ke dalam buku-buku beliau yang lain. Lantas, mengapa Jostein memilih karakter Sophie – seorang anak perempuan – sebagai karakter utama dalam novel filsafatnya?

Mengenai ini Jostein menjelaskan bahwa karakter dalam novel filsafatnya haruslah wanita, ‘Sophie’ diambil dari bahasa Yunani yang memiliki arti kebijaksanaan, sedang filsafat adalah upaya untuk mencapai kebijaksanaan. Dalam tata bahasa barat, kata “wisdom” merupakan jenis kata feminin (dalam beberapa bahasa di Eropa, kata sering dibedakan dalam kelompok kata feminin dan maskulin)

Menurutnya sangat wajar wanita diidentikkan dengan filsafat dan kebijaksanaan karena wanita memiliki kebutuhan untuk mengerti, sementara laki-laki lebih ingin dimengerti.

Lantas mengapa filsuf kebanyakan laki-laki? Jostein mengemukakan teorinya bahwa dahulu wanita tidak mendapat kebebasan untuk menuntut ilmu, dan sesungguhnya ada filsuf wanita tetapi kurang dikenal.

Tentang filsafat dan teori filsafat yang paling disukai
Ini serupa dengan pertanyaan “siapa filsuf favorit saya” katanya. Bagi Jostein sangat sulit untuk menjawabnya karena setiap filsuf membahas hal-hal yang unik dan berbeda, dan teori mereka masing-masing sangatlah menarik dan menggambarkan keadaan sejarah suatu masa tertentu.

Lebih jauh mengenai filsafat, menurut Jostein, filsafat terdiri atas pertanyaan-pertanyaan mendasar manusia. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, beberapa pertanyaan filsuf sudah dapat dijawab. Seperti misalnya seperti apa dunia ini, ada apa di balik bulan, cara kerja tubuh manusia, dan lain sebagainya.. Meski demikian, selalu ada misteri lain untuk dipecahkan, sehingga semakin kita mengerti semakin pula kita mengerti bahwa banyak hal yang belum kita mengerti. Namun ada juga pertanyaan-pertanyaan yang masih akan terus kita cari jawabannya seperti “apa itu cinta?”, “apa itu keadilan?” Pertanyaan semacam ini tidak memiliki jawaban pasti. Kita akan selalu menanyakan pertanyaan ini lagi dan lagi.

Agama, menawarkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan filosofis. Pertanyaan-pertanyaan seperti “apakah Tuhan itu ada?”, “apakah ada kehidupan sesudah mati?” dapat dijawab oleh agama. Karenanya tidak ada pertentangan antara filsafat dengan agama.

Tentang Sophie Prize
Di luar dugaan, Dunia Sophie menjadi buku yang sangat laris dan menghasilkan sangat banyak uang. Dari sana Jostein dan istrinya – Siri Dannevig – mencanangkan Sophie Prize sebagai penghargaan terhadap organisasi/penelitian/perorangan yang berperan dalam kelestarian lingkungan, karena keduanya sangat peduli pada alam dan lingkungan.

Tentang Filsafat dan Lingkungan
Sudah pasti ini menjadi pertanyaan selanjutnya. Jawab Jostein, bagaimana kita dapat menjaga kelestarian alam ini merupakan pertanyaan paling filosofis saat ini. Dan jika ia menulis Dunia Sophie saat ini, ia pun akan banyak memasukkan tentang lingkungan. Menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab global, tapi tanggung jawab kosmik.

Terakhir, Jostein menyatakan bahwa setiap kita lahir dengan rasa penasaran, keingintahuan. Pada dasarnya semua orang lahir sebagai filsuf. Sayangnya, seiring usia, kita menjadi terbiasa akan segala sesuatu. Bagi manusia dewasa, dibutuhkan stimulan luar biasa untuk membangkitkan keterpanaan, seperti obat-obatan, hantu, alien... Bagi Jostein, tidak dibutuhkan alien untuk membuatnya terpesona, karena dirinya sendiri adalah alien, yang hingga kini setiap kali terbangun di pagi hari masih terpana dan bertanya, "Siapa saya?"

"I'm still amazed!" ujarnya mengakhiri perbincangan.

*** 

Fiuh, apa kalian masih bersama saya? :D Ya, hanya satu jam saja pertemuan kami, tapi kalau diceritakan ternyata panjang juga ya... haha... ini sih karena saya yang ga bisa berhenti aja :p

Oya, tentu saja, setelah sesi bincang-bincang, ada sesi tanda tangan. Saya membawa Dunia Sophie dan Gadis Jeruk – keduanya Gold Edition terbitan Mizan (sayangnya saya gagal menemukan koleksi lama saya huhuhu) – untuk ditandatangani. Plus 2 titipan dari Mas Tanzil dan Fanda. Keduanya blogger buku yang aktif, sayang sekali karena lokasi di Bandung dan Surabaya tidak memungkinkan mereka untuk datang. Aah sayang sekali ya, padahal bisa ketemuan :)

Isi tas saya siang itu :D
Yaay Dunia Sophie & Gadis Jeruk sudah ditandatangani oom Jostein!!
Di acara tersebut saya juga bertemu dengan admin @bukunya, yang di bulan Agustus lalu mengadakan kuis #GaarderFest di mana saya memenangkan Bibbi Bokken :D

Kemudian acara pun selesai... Lalu saya memandangi punggung oom Jostein dengan sedih ketika beliau melangkah meninggalkan area sudut lantai 1. Bertemu sudah, tanya-jawab sudah, tanda tangan sudah. Tapi, masih ada sesuatu yang kurang. Ada yang belum saya mengerti dengan jelas, seperti ada sesuatu yang hilang yang membuat saya masih belum memahami hubungan antara Dunia Sophie – filsafat – Lingkungan. Demi mencari mata rantai yang hilang inilah, saya bertekad untuk berpetualang mengejar Jostein Gaarder ke Depok esok harinya. Tambahan lagi, saya kan belum sempat foto bareng beliau :D

Bagaimana ceritanya? Apakah misteri terpecahkan setelah menempuh jalan berliku dari Kalimalang ke Depok? :D Ditunggu ya teman..! Besok atau lusa mampir lagi ke sini yaaa.. ;)

***

Sedikit oleh-oleh untuk yang ga bisa datang ke acara jumpa dengan Jostein Gaarder, ini ada secuil video :D Saya menontonnya berkali-kali :p semoga mengobati rindu pada oom Jostein.

PS: Buat yang belum baca Dunia Sophie, sebaiknya berhenti di menit 13:45, karena ada spoiler sesudahnya!!



Friday, July 1, 2011

Video Book Review: City of Bones

Selalu ada yang pertama untuk segala sesuatu, konon ada pepatah yang berkata begitu. Setelah pertama kalinya bikin video bbrp waktu lalu itu, sekarang pertama kalinya saya merekam diri saya sendiri ngomong (klo di video terdahulu sy "bisu") dan dengan pedenya meng-upload-nya ke Youtube. Ngeblog dan mejeng di blog itu satu hal, tapi merekam diri sendiri untuk konsumsi publik itu hal yang lain.. Maluuu yaa tnyataaah.. :)) :)) :)) Hail to all vloggers all around the blogosphere who have done this regularly.

Berawal dari Penerbit Ufuk yang menantang untuk membuat video book review tentang salah satu buku terbitan mereka, dengan iming2 hadiah 5 buah buku yang boleh dipilih sendiri. Hiyaaa gimana saya bisa berpaling dari tantangan semacam itu? LOL.. Selain itu, saya juga baru tau klo tnyata ada juga ya yg ngereview buku pake video, kirain cuma lewat tulisan ajah :p Tertantang, maka sayapun memutuskan urat malu dalam sekali tebas. Tshaaah! Maka jadilah video ini. Banyak sangat kekurangannya, mohon diampuni ya.

Without further ado, here's my video book review for City of Bones.


Judul: City of Bones
ISBN: 978-602-8224-80-2
Penulis: Cassandra Clare
Penerbit: Ufuk
Halaman: 664







*
*
*
Daan.. tnyata saya menang, darling.. Yaay! *Joget pisang*
Hadiahnya.. katanya boleh milih, beneran ga ya? Pilih apa ya? City of Glass udah pasti, 4 lagi apa yaa..? *pilih2

Monday, May 30, 2011

The Vampire Diaries: The Struggle

Melanjutkan Buku 1 The Awakening, Stefan menghilang dengan membawa serta tuduhan atas penyerangan dan pembunuhan Mr. Tanner, salah seorang guru di Robert E. Lee Highschool. Elena tahu bukan Stefan pelakunya. Pasti Damon. Dan Stefan menghilang, ini pun pasti perbuatan Damon. Stefan tidak mungkin menghilang begitu saja setelah apa yang mereka bagi bersama hari itu; saat Stefan meminum darah Elena dan Elena meminum darah Stefan.

Namun Damon menolak memberi tahu, alih-alih ia mengatakan bahwa Stefan telah tewas. Tak menyerah, Elena pun meminta Bonnie mencarinya dengan kekuatan ramalannya. Ketika akhirnya ditemukan, Stefan pun diinterogasi polisi tapi tentu saja tidak ditemukan bukti apapun sehubungan dengan pembunuhan Mr. Tanner, namun itu tidak mengubah pandangan penduduk Fell's Church dan siswa-siswi Robert E. Lee begitu saja. Mereka tetap mencurigai Stefan. Dan Elena, yang mati-matian membela Stefan, berubah drastis kehidupannya; dari gadis terpopuler di sekolah, menjadi gadis paling tidak diinginkan kehadirannya.

Terkucil dari kehidupan sekolah, kecuali oleh sahabat-sahabatnya Bonnie dan Meredith, beban Elena tidak hanya sampai di situ. Damon telah memperlihatkan diri di kota. Kini ia terang-terangan melancarkan aksinya untuk mendapatkan Elena. Pesona Damon memikat semua orang, bahkan Bibi Judith - bibi Elena yang menjadi pengganti orang tuanya setelah mereka meninggal dunia - dan kekasihnya pun ikut-ikutan menjodoh2kan Damon dengan Elena.

Belum lagi soal buku harian yang hilang, mulai meneror Elena. Perbuatan jahat terencana Caroline dan Tyler yang bertujuan membuktikan keterlibatan Stefan dalam penyerangan pria gelandangan di bawah jembatan. Elena harus memperoleh kembali buku itu atau Stefan akan diusir dari kota. Tapi di mana buku itu? Pencarian pertama gagal total. Lalu Damon yang menawarkan diri untuk menemukan buku itu dengan syarat Elena harus mau bersamanya selama 1 jam. Haruskah ia menerima tawaran itu, menyerahkan dirinya pada Damon demi menyelamatkan Stefan?

Membaca The Vampire Diaries: The Struggle; saya dibuat cinta mati sama Damon.. :D Deskripsi tentang dirinya di awal-awal buku sukses menggambarkan keseksian Damon. Bahkan tanpa bayang-bayang Ian Sommerhalder (pemeran Damon dalam tv series-nya) pun, terasa banget betapa menawannya cowok vampir satu ini.

Tiba-tiba Damon tertawa, jantung Elena pun tersentak dan mulai berdebar kencang. Ya Tuhan, dia begitu indah. Tampan merupakan kata yang terlalu lemah dan tidak berwarna untuk menjabarkannya. Seperti biasanya, derai tawanya hanya bertahan sebentar. Namun, bahkan saat mulutnya berhenti bergelak, masih tersisa binar tawa di matanya.

Aaaww aaawww..!

Dalam buku ini hubungan antara Elena dan Damon berkembang. Stefan yang terlalu lemah setelah pertarungannya dengan Damon tidak terlalu mengambil peran. Elena banyak menutupi keadaan sebenarnya dari Stefan karena khawatir jika Stefan tahu kebenarannya, ia akan murka dan mencari Damon, sementara ia tahu Stefan tidak akan menang dari Damon.

Kekuatan psychic Bonnie pun semakin absah. Beberapa kali ia "terasuki" dan mengatakan hal-hal yang menjadi nyata, atau hal-hal tersembunyi yang tidak diketahui siapapun.

Satu-satunya hal yang mengganggu buat saya adalah Elena yang terlalu sering memberikan darahnya untuk Stefan dan Damon. Kayanya Elena ini cocok deh jadi bintang iklan obat penambah darah :p
 >.<

Seperti halnya The Awakening, The Struggle juga berakhir menggantung. Ga ada pilihan lain selain harus cepat-cepat beli Buku 3 atau saya bisa gelisah siang malam karena penasaran :p Tapi jatah belanja buku bulan ini udah habis, musti tunggu sampe akhir bulan depan T_T Oh, Damon wait for me yaah..

Judul: The Vampire Diaries: The Struggle
ISBN: 978-979-024-209-8
Penulis: L.J. Smith
Penerbit: Atria
Halaman: 282

Sunday, May 22, 2011

The Vampire Diaries: The Awakening

Elena: cantik, pirang, ratu sekolah. Cowok mana yang ga akan bertekuk-lutut di hadapannya. Namun di tengah kepopulerannya, ia merasakan sesuatu yang kurang. Ia merasa belum menemukan sesuatu yang penting; cowok yang benar-benar membuatnya jatuh cinta dan mencintainya, "rumah"-nya. Sampai akhirnya ia bertemu cowok itu.

Stefan: tampan, acuh, vampir. Lahir di akhir abad 15. Terpesona pada Elena bahkan sebelum ia melihatnya. Ia merasakan kehadiran gadis itu sebagai aura kuat yang menggoda. Dan ketika ia benar-benar melihat wajah Elena, jiwanya bergelora. Betapa miripnya gadis itu dengan wanita di masa lalunya - wanita yang amat dicintainya; Katherine. Wanita yang mengubahnya menjadi vampir.

Damon: mata hitam kelam bahkan lebih gelap dari malam, pesona yang tidak dapat disangkal, kakak Stefan, juga vampir, hanya lebih kuat. Dipengaruhi oleh rasa persaingan dan kebencian pada adiknya, pemuda itu tidak pernah melepaskan Stefan dari pengamatannya, bahkan selama berabad-abad ini. Ketika melihat Elena, ia tahu ia harus memilikinya, dengan cara apapun.

Elena Gilbert dibuat penasaran setengah mati pada Stefan, murid baru di sekolah menengah Robert E. Lee. Mengapa Stefan selalu menghindarinya, mempermalukannya di depan teman-temannya. Dia, gadis paling cantik dan populer sesekolah?? Di antara dirinya dan Stefan, seperti ada dinding tinggi dan tebal yang tak tertembus apapun dan siapapun. Bisakah ia, Elena, mendobrak masuk pertahanan Stefan?

Lalu peristiwa demi peristiwa aneh pun mulai meruak di Fell's Church, membuat kedamaian lingkungan itu terusik.. penyerangan, pembunuhan.. Benarkah aman bagi Stefan untuk berada di antara manusia atau tepatnya amankah para manusia itu dengan Stefan di tengah-tengah mereka? Yakinkah ia bahwa ia memiliki cukup pengendalian diri dan tidak akan melukai mereka?

Dan Damon, mau apa dia di kota ini?


Sejujurnya saya agak kesulitan untuk menamatkan buku yang hanya setebal 281 halaman ini.

Pertama, saya sangat tidak tergoda dengan ilustrasi covernya. Saya menghargai buku sebagai satu benda utuh luar-dalam, ilustrasi seperti pada cover The Vampire Diaries: The Awakening ini benar-benar kurang mengesankan bagi saya. Meski kemudian saya mulai melihat kecantikan Elena dalam ilustrasi tersebut, saya tetap bersyukur Atria mengubah desain sampul seri-seri berikutnya.

Kemudian, saya agak terganggu dengan terjemahannya. Entah kenapa saya lebih menyukai aku-kau sebagai bahasa buku, ketimbang aku-kamu. Juga beberapa istilah yang tidak tepat seperti "anak laki-laki" untuk mewakili Stefan? Err.. Mungkin versi aslinya "boy" tapi bukan berarti harus diterjemahkan sebagai anak laki-laki kan, kalau sudah SMU. Kadang kita menyebut teman sekelas kita dengan sebutan "anak-anak" tapi tidak untuk menarasikan kehadiran Stefan, rasanya. Untungnya seiring lembar demi lembar, penerjemah tampaknya menemukan kata yang lebih tepat dibandingkan "anak laki-laki" yaitu "cowok". Dan seiring dengan cerita yang semakin intens saya pun akhirnya terbiasa dengan aku-kamu.

Namun dari segi cerita, The Vampire Diaries ini sangat menarik. Khas cerita fiksi fantasi remaja, ringan tapi membius. Pertama kali terbit tahun 1991 dan hanya dibuat dalam 3 volume. Namun karena desakan pembaca, L.J. Smith akhirnya menulis lanjutannya. Kini serial ini sudah diangkat ke layar kaca dan menjadi salah satu serial TV yang paling diminati di Amerika. Saat ini Atria sudah menerbitkan 4 serinya dan saya benar-benar berharap Atria menerbitkan semua seri The Vampire Diaries ini.

Semakin membaca, saya benar-benar jadi semakin tertarik. Terutama pada bagian Katherine. Keberadaan dan kematiannya serta karakternya terasa aneh. Dan tentu saja tentang Damon. Ya, saya harus segera membaca Buku 2. Damon I'm coming..!!

Yang udah baca dan melahap TV Seriesnya, jangan spoiler ya.. :D

Judul: The Vampire Diaries: The Awakening
ISBN: 978-979-0242-07-4
Penulis: L.J. Smith
Penerbit: Atria
Halaman: 281

Monday, January 24, 2011

The Man Who Loved Books Too Much

Ini hutang review dari tahun lalu, waktu saya mendapat paket dari Vixxio, karena memenangkan giveaway-nya. Namanya aja Vixxio yang merupakan toko buku bekas online, jadi pasti deh hadiahnya buku. Pertanyaannya; buku apa? Gyaah gampang bgt pertanyaannya.. jelas2 judul bukunya disebutin di judul posting ini.. *gubrak! Berarti pertanyaan berlanjut; seperti apa dan gimana cerita bukunya? Yuk, sama-sama kita buka paketnya..!

The Man Who Loved Books Too Much


Buku terbitan Alvabet ini bercerita tentang seorang pria bernama John Gilkey yang sangat menyukai buku, namun untuk mendapatkan buku-buku demi melengkapi koleksinya, ia mencuri. Modus operandinya selalu sama namun sangat efektif; berpura2 membeli sebuah buku langka melalui telepon kemudian membayarnya dengan salah satu dari nomor2 kartu kredit yang sudah dikoleksinya terlebih dahulu.

Kemudian sebagai lawan tangguhnya, adalah Ken Sanders, seorang bibliodick - detektif dalam bidang buku, yang luar biasa geram dengan aksi Gilkey dan bertekad menangkap basah dirinya. Misi lainnya adalah menemukan koleksi buku hasil curian yang masih disembunyikan Gilkey.

Uniknya, Gilkey berkali-kali tertangkap, berkali-kali ditahan selama beberapa waktu meski tidak pernah terlalu lama, namun itu tidak membuatnya kapok. Ia justru semakin bersemangat untuk mencuri buku lebih banyak lagi. Di dalam buku setebal 300 halaman ini kita akan mengikuti perjalanan Gilkey dalam mengumpulkan buku2 langka dengan atas nama kecintaannya pada buku dan ambisi pribadinya mengkoleksi buku.

Kisah yang dituturkan Allison Hoover Bartlett dari sudut pandang dirinya ini merupakan kisah nyata, meskipun saya tidak banyak melakukan riset sendiri untuk membuktikan bahwa ini benar2 kisah nyata; soalnya waktu saya tanya ke dik Google ttg John Gilkey, yang muncul justru seorang artis sirkus, dan kalaupun ada ttg Gilkey sang pencuri, literaturnya hanya dari buku Allison ini. Jadi saya hanya bisa percaya pada informasi genre yang tertera di halaman 2 di bawah ISBN; Kisah Nyata.

Saat membaca satu dua halaman, entah kenapa saya langsung teringat pada Professor and The Mad Man, untuk kemudian di tengah2 buku mendapati bahwa Allison tnyata sangat menggemari buku tersebut. Mungkin buku itu pula yang memotivasinya menulis buku ini. Mengingat sampai saat ini sy belum jg berhasil menamatkan Professor and The Mad Man, di bbrp halaman awal sy sempat ngeri jangan2 buku ini bakal berakhir sama; nangkring di rak buku tanpa pernah selesai dibaca, tapi tnyata saya justru ga bisa berhenti membacanya!

The Man Who Loved Books Too Much memuat banyak hal tentang dunia buku dan kolektor buku. Karenanya, bagi pecinta buku bahkan yang amatiran seperti sayapun, buku ini terasa dekat dan mewakili.

Seperti petikan berikut:
Hal. 127 (klik utk perbesar)

Sy ngerasain bgt! Betapa sy berdebar2 hanya dengan melihat di internet gambar2 dari bbrp buku pertama saya; Serial Tini (yg paling pertama sy miliki berjudul Kiki Kelinci), dan betapa inginnya saya memiliki buku2 tersebut lagi. Sepanjang buku ini, sy sama sekali ga bisa merasakan kenapa edisi pertama begitu penting. Bagi sy buku2 tertentu yg memiliki "sejarah" bersama saya-lah yg paling ingin sy koleksi.

Juga tentang "kekuatan" buku fisik bila dibandingkan dengan buku elektronik (e-book):
Hal. 217 (klik utk perbesar)

Buku ini pun menyelipkan humor yang menggelitik, seperti:
Hal. 178 (klik utk perbesar)

Ending-nya menarik, lebih tepatnya menjanjikan..! Hmm tapi itu rahasia, cukup kedip2 aja y buat yang udah baca.. ;) Yang belum baca, baca dong!

Secara keseluruhan, buku ini seperti mak comblang yang akan mempertemukan kembali cinta kita pada buku manakala mungkin kita sudah melupakannya.. menyalakan lagi bara dari hasrat terpendam untuk mengkoleksi buku dan membakar semangat untuk sebuah mimpi; punya perpustakaan pribadi impian masa kecil!

Setidaknya, begitulah efeknya pada saya.. Saking terpengaruhnya sama buku ini, klo kamu liat list buku yg saya baca sepanjang tahun 2010 lalu (lihat list-nya di sini), setelah buku ini di urutan No. 7, ga lama kemudian saya membeli box set Malory Towers dan St. Clare - yg sdh sejak lama tertunda - dan melahapnya nonstop! Efek pada Anda? Silahkan dirasakan sendiri.;)
 ***
Special thanks to Vixxio for the book! ;)
Follow Vixxio on Twitter, karena sering ada bagi2 buku looh.. :D

Friday, December 31, 2010

Jelang Tahun Baru, Sambut Tantangan Baru

Tahun 2010 segera berlalu.. dengan gembira sy mengumumkan bahwa tahun ini saya capai target!! Ihiiy! Target apa? Target baca buku! :D Tahun 2009 saya gagal memenuhi tantangan membaca 20 buku dalam setahun, tapi tahun ini saya berhasil, berhasil, berhasil, oyee!

Total 25 buku sajah siih.. dikit y.. tapi yg penting mission accomplished! Ini dia judul2 buku yg saya baca di sepanjang tahun 2010 ini.

1. Anne of Green Gables (Lucy M. Montgomery)
2. Moga Bunda Disayang Allah (Tere-liye)
3. A Painted House (John Grisham)
4. 1 Liter of Tears (Aya Kito)
5. Hafalan Shalat Delisa (Tere-liye)
6. Anne of Avonlea (Lucy M. Montgomery)
7. The Man Who Loved Books Too Much (Allison Hoover Bartlett)
8. The Short Second Life of Bree Tanner (Stephenie Meyer)
9. The Lovely Bones (Alice Sebold)
10. Breaking Dawn (Stephenie Meyer) - re-read
11. Semester Pertama di Malory Towers (Enid Blyton) - re-read
12. Kelas Dua di Malory Towers (Enid Blyton) - re-read
13. Kelas Tiga di Malory Towers (Enid Blyton) - re-read
14. Kelas Empat di Malory Towers (Enid Blyton) - re-read
15. Kelas Lima di Malory Towers (Enid Blyton) - re-read
16. Semester Terakhir di Malory Towers (Enid Blyton) - re-read
17. Si Kembar di Sekolah Yang Baru (Enid Blyton) - re-read
18. Kembali ke St. Clare (Enid Blyton) - re-read
19. Musim Panas di St. Clare (Enid Blyton) - re-read
20. Kelas Dua di St. Clare (Enid Blyton) - re-read
21. Claudine di St. Clare (Enid Blyton) - re-read
22. Kelas Lima di St. Clare (Enid Blyton) - re-read
23. Secret Garden (Frances Hodgson Burnett) - re-read
24. A Wizard of Earthsea (Ursula Le Guin)
25. Evermore (Alyson Noel)

Untuk tahun 2011 besok saya menemukan tantangan buku yg menarik dari blognya Fanda. Tantangan ini berjudul What's in A Name 4. Aturan mainnya, kita harus memilih buku yang judulnya mengandung unsur-unsur tertentu yaitu; Number, Jewelry/Gem, Size, Travel/movement, Evil, Life stage. Ga harus terlalu harfiah, yang penting ada hubungannya.


Seru juga ya.. Ikutan aaah.. Sebenernya kita ga perlu menetapkan judulnya sejak detik ini juga, tapi seperti biasa saya selalu punya buku incaran, dan tnyata banyak buku incaran yg masuk kategori, jadi dengan senangnya saya mengumumkan list berikut ini..!

1. Number
Negeri 5 Menara karya A. Fuadi.. bukunya udah punya, tapi lom sempet2 dibaca.. hehe.. Dengan tantangan ini, jadi lebih termotivasi buat baca..

2. Jewelry/Gem
Golden Book by Kyoko Hikawa.. ini lanjutan dr Angin Musim Gugur manga lama tapi dicetak ulang sbg collector's edition.. udah ngincer bgt, kebetulan nyerempet2 (agak jauh? :p) kategori ini..

3. Size
A Little Princess oleh Frances Hodgson Burnett, bukunya dapet gratis dari kuis Twitter #GPUBookWish Gramedia.. yaay!

4. Travel/Movement
Sebenernya pengen baca Naked Traveler, tapi kebetulan ada satu buku yg sesuai dan belum dibaca yaitu Haji Backpacker-nya Aguk Irawan.. buku ini udah lamaaa bgt ngendon di rak buku.. saatnya dibaca! :p

5. Evil
My Stupid Boss.. Boss kan agak2 indentik sama evil gitu y.. ahahaha.. :p
Klo kamu pengen baca buku ini bareng saya, kamu bisa dapetin buku ini gratis! Ikutan deh giveaway di sini ;)

6. Life Stage
Cado-cado: Catatan Dodol Calon Dokter tulisan Ferdiriva Hamzah.. saya melihat buku ini di rak toko buku dan kepincut, tapi terpaksa saya tunda dulu membelinya krn kalah bersaing sama buku lain.. :p Sekarang, buku tentang kehidupan calon dokter yg kayanya kocak ini bakal masuk list utama

Oya, selain tantangan yg udah sy jembrengin di atas, sy punya tantangan lain untuk 2011: 

5 books, 5 writers, 5 countries

Sebenarnya mungkin kita udah biasa membaca buku dari penulis2 dari berbagai negara, tapi suka kurang ngeh dan perhatian dari negara mana sang penulis berasal. Dengan tantangan ini, saya kepengen selain menikmati cerita, juga mengenal para pengarangnya.

Dan meskipun saya bisa mengambil judul2 dari tantangan di atas untuk masuk ke tantangan ini, tapi ga seru aah klo bukunya sama.. ya kan..

1. Anne of Windy Poplar, L.M. Montgomery (Kanada).. gyahaha.. curang niy, sekalian namatin serial Anne ceritanya.. :p

2. Warna Tanah, Kim Dong Hwa (Korea)

3. City of Bones, Cassandra Clare (Amerika)
Setelah Twilight Saga, Evermore, skrg ini.. keliatannya saya lg suka buku2 fantasy-remaja biar berasa muda terus y.. :p

4. Jane Eyre, Charlotte Bronte (Inggris)
melengkapi seri novel klasik terbitan Gramedia, classics never fail me

5. blum ditentuin.. pastinya pengen penulis Indonesia.. apa ya enaknya..?

Btw, list is subject to change yaa.. jadi klo di tengah jalan sy berubah pikiran, dengan semena-mena saya berhak mengubah judul2 bukunya.. :p It's just for fun, no pressure!! ;)

Yak itu dia tantangan buku di 2011.. semoga sy berhasil menyelesaikan.. doakan saya yaaa..! *sambil berdoa juga supaya di tengah tahun ada diskon 30% Gramedia biar bisa borong.. :p

Mau buku gratis?
Living Daisy bagi-bagi hadiah di sini!

Thursday, September 16, 2010

Insight: Aquila Asia Magazine

I've been eyeing on Aquila Asia for some time when finally won it from their daily quote quiz on Facebook. Yaayness!! :D

They sent me July-August issue, I was very excited! :D

First impression, it looks exclusive. Neat. You won't see messy colorful fonts all over the cover.. pheww how glad I am.. ;) The tag line "Fashion & Lifestyle for Cosmopolitan Muslim Women" is surely very promising. Despite the adorable fashionable photograph, I was a bit reluctant to the cover at first honestly, due to the not-so-covering clothes.. but decided to see the beauty in it before judging too far.. :)

I've read quite a lot of local muslim magazines in Indonesia, and I must say Aquila Asia (will be then shortened to Aquila) is nothing like those I've known.

As a muslim women magazine, it is more complex than any other women magazines out there and touches wider range of topics than muslim magazines of my knowledge.

Let's browse it page by page.

These writings amazed me. Such eye openers..
A story about Nujood, a young Yemen who is only 10 years old, and divorced!
A shocking truth about beggars in Indonesia.. I was wowed knowing that there's what we call 'professional beggars' who actually become wealthy from begging
Some interesting stories from muslims around the world during Ramadhan
I also enjoyed these pages..
Home decor inspiration
Pieces of art
Interesting movie picks
For an IDR 50k magz, it gives a handy magz in good quality of papers. You might notice the price is higher than any local magazines here in Indonesia, but considering it's a bi-monthly magz, I think we can still manage to buy a copy.

The only concern I have is the lack of hijab style inspiration in Aquila.We hardly see women in hijab inside. They don't hijabify the fashion spread. Although the photographs are gorgeous, the spreads to me end up to be just like in any other regular women magazines. The hijab spread is practically only in 5 pages of the total more than 150. That is just way below my expectation for a muslim women magazine.

While the red scarf style (right) is pretty interesting, the green one (left) however, is just so-so for a fashion muslim women magazine..
I love the fashion spreads, unfortunately they offer very little of hijab styles..

All in all, Aquila is full of addicting articles.. once you read it you can't stop. You'll might even crave for the next issue (yup, that's me, can't wait! :D) They put good reads in it. If only Aquila puts a lot more of hijab inspirations, more muslim women fashion spreads.. I believe it will knock out its competitors..


- Grab a copy for free! -
Aquila Asia will be giving away the next issue (September-October) for the lucky followers on Twitter!
Follow Aquila Asia on Twitter to keep updated ;)
 

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails